Memuat...
Para pejuang bangsa dulu merebut kemerdekaan dengan darah dan air mata. Mereka melawan penjajahan agar rakyat bisa hidup tanpa penindasan. Itu adalah kemerdekaan lahiriah. Namun, para sufi menambahkan dimensi lain: merdeka batiniah.
Seorang ulama sufi besar, Jalaluddin Rumi, pernah menulis bahwa musuh paling berat bukanlah tentara bersenjata, tetapi hawa nafsu yang bercokol di dalam diri. Jika bangsa hanya merdeka secara lahir, tapi masih diperbudak oleh keserakahan, kebencian, atau korupsi, maka kemerdekaan itu belum sempurna.
Bagi kaum sufi, kebebasan sejati adalah ketika hati hanya tunduk kepada Allah. Seseorang bisa saja hidup di negeri merdeka, tetapi jika pikirannya terpenjara oleh rasa takut, iri, atau kecemasan, maka ia belum benar-benar bebas. Sebaliknya, ada orang yang hidup dalam keterbatasan materi, namun jiwanya lapang dan damai karena dekat dengan Tuhan—itulah kemerdekaan yang hakiki.
Di sinilah generasi muda bisa belajar. Tantangan hari ini bukan lagi meriam atau penjajah berseragam, melainkan distraksi dunia digital, tekanan sosial, dan pencarian jati diri yang sering membuat hati gelisah. Media sosial, misalnya, bisa menjadi arena baru perbudakan jika kita kehilangan kendali—kita sibuk mengejar likes, views, dan pengakuan, tetapi melupakan kedamaian batin.
Maka, peringatan 80 tahun kemerdekaan seharusnya menjadi momen refleksi: sudahkah kita merdeka dari belenggu batin kita sendiri? Generasi muda yang kelak menjadi pewaris bangsa perlu menanamkan nilai-nilai sufistik:
Delapan puluh tahun lalu, para syuhada bangsa rela mengorbankan jiwa demi kemerdekaan. Hari ini, generasi Z ditantang bukan untuk mengangkat senjata, tetapi untuk menjaga nilai kemerdekaan dengan cara baru: melawan hoaks, menolak perpecahan, melindungi lingkungan, dan menghidupkan budaya saling menghormati. Semua itu hanya mungkin dilakukan jika jiwa kita benar-benar merdeka.
Kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa adalah amanah. Ia bukan hanya kebebasan untuk berbuat sesuka hati, tetapi kesempatan untuk mengarahkan bangsa menuju kebaikan. Dalam perspektif sufisme, kemerdekaan adalah jalan untuk semakin dekat kepada Allah, karena hanya dengan-Nya jiwa manusia mencapai kebebasan yang sejati.
Mari kita rayakan 80 tahun Indonesia bukan hanya dengan pesta lahiriah, tetapi juga dengan tekad batin: menjadi bangsa yang merdeka lahir dan batin. Sebab, hanya bangsa yang jiwanya merdeka yang bisa benar-benar menjaga kemerdekaan lahiriahnya.
22/08/2025 16:02 WIB
21/08/2025 00:50 WIB
21/08/2025 01:01 WIB
21/08/2025 04:36 WIB
23/08/2025 08:08 WIB
22/08/2025 18:05 WIB
22/08/2025 17:47 WIB
22/08/2025 16:02 WIB