Loading...

Memuat...

Thariqah Dan Generasi Z-Menemukan Kedamaian di Tengah Hiruk Pikuk Kehidupan Anak Muda

22/08/2025 18:17 WIB - Agus Gunawan
Generasi Z hidup di era serba cepat. Notifikasi media sosial berdenting nyaris setiap menit, tren berubah lebih cepat daripada kita bisa mengikutinya, dan tuntutan untuk selalu “aktif” di dunia digital membuat banyak anak muda kehilangan waktu untuk sekadar diam. Akibatnya, semakin banyak yang merasa cemas, tertekan, bahkan hampa.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah terbesar generasi hari ini bukan sekadar kekurangan informasi—justru sebaliknya, informasi datang berlimpah hingga menenggelamkan ketenangan batin. Kita bisa terhubung dengan siapa saja di seluruh dunia, tapi sering gagal terhubung dengan diri sendiri.

Tasawuf: Ruang Hening untuk Hati

Di sinilah tasawuf, khususnya melalui jalan thariqah, menawarkan sesuatu yang sangat berharga: ruang hening bagi hati untuk beristirahat, menyembuhkan luka batin, sekaligus menemukan makna hidup yang lebih dalam.

Mengapa Tasawuf Relevan Bagi Anak Muda?

Banyak anak muda hari ini mengalami apa yang disebut “krisis kedamaian.” Mereka mungkin terlihat bahagia di depan kamera, tetapi di balik layar hati mereka lelah. Media sosial memunculkan budaya membandingkan diri secara terus-menerus—siapa yang lebih sukses, siapa yang lebih cantik, siapa yang lebih viral. Tekanan ini menimbulkan rasa cemas yang sulit dipadamkan.

Thariqah hadir bukan sebagai pelarian dari dunia, melainkan sebagai jalan untuk hidup lebih tenang di tengah dunia. Ia mengajarkan zikir (mengingat Allah), muraqabah (kesadaran hati akan kehadiran-Nya), dan muhasabah (introspeksi diri), dengan efeknya luar biasa: menenangkan pikiran, menyehatkan jiwa, dan menumbuhkan rasa syukur.

Generasi Z pun bisa memulainya sekarang. Tidak ada syarat harus hafal kitab tebal atau mampu berjam-jam dalam khalwat. Yang dibutuhkan hanyalah niat untuk memperbaiki hati. Langkah kecil, seperti rutin membaca lā ilāha illallāh dengan penuh kesadaran atau meluangkan waktu lima menit sehari untuk duduk tenang tanpa gawai, bisa menjadi pintu masuk menuju perjalanan spiritual yang lebih dalam.

Tasawuf dan Mindfulness: Persinggungan Modern

Psikologi modern belakangan banyak mengangkat konsep mindfulness—latihan kesadaran penuh untuk mengurangi stres. Menariknya, Islam telah lama mengenal praktik serupa, bahkan lebih dalam, lewat zikir dan tafakkur.

Perbedaannya, mindfulness sekuler berhenti pada kesadaran diri, sementara tasawuf menghubungkan kesadaran itu kepada Allah. Bagi anak muda yang haus makna, ini adalah jawaban penting. Sebab yang mereka cari bukan sekadar tenang, melainkan tujuan hidup yang memberi arah. Bayangkan seorang mahasiswa yang sibuk kuliah sambil freelance. Hari-harinya penuh dengan deadline, rapat online, dan kejar target. Di tengah kepenatan, ia mengikuti majelis zikir yang diadakan di kampus. Awalnya ia mengira akan bosan, tapi ternyata justru menemukan rasa damai yang belum pernah ia rasakan.

Menemukan Jalan Pulang

Generasi Z dikenal kreatif, peduli isu sosial, dan berani mengambil tantangan. Namun, semua energi itu lebih bermakna jika disertai hati yang tenang. Thariqah memberikan kunci: zikir yang menenangkan, muraqabah yang menajamkan kesadaran, dan muhasabah yang menjaga langkah.

Hiruk pikuk dunia tidak akan berhenti. Tetapi, hati yang terhubung dengan Allah akan selalu menemukan kedamaian, di manapun dan kapanpun. Mungkin, inilah saatnya anak muda melihat tasawuf bukan sebagai warisan masa lalu, melainkan sebagai solusi masa kini. Karena, kedamaian tidak ditemukan di layar ponsel, melainkan di dalam hati yang selalu ingat kepada Tuhan.

Tag/Kategori:

ArtikelThariqah